Sabtu, 04 Januari 2014

YANG MENARIK DARI CAPRES2014 HM.TONY ARDIE.

HM.TONY ARDIE
dari sebelah kiri,”HM.TONY ARDIE” (HAMTA) CAPRES 2014, bersama dengan ,”JOE.R” Wartawan Khatulistiwa Nusantara Media . (pic:robby)

SURABAYA2014, KEDATANGAN 7 CAPRES LUAR BIASA, 
YANG MENARIK DARI CAPRES2014 HM.TONY ARDIE.

Indonesia Tanah Airku, Tanah Tumpah Darahku, Disanalah Aku Berdiri Dari Pandu Ibuku, Indonesia Kebangsaanku, …. Bangsa Dan Tanah Airku,  Marilllah Kita Berseru , Indonesia Bersatu. 


Surabaya-7(tujuh) CAPRES Rakyat 2014 berdatangan ke-Surabaya, bertandang karena menggelar diskusi dan pembahasan secara indiependen(05/01) pembukaan dibuka di hotel mojopahit surabaya, tepat 15:00wib, saat diskusi terjadi, sedangkan teman-teman media, sibuk berlalu-lalang, berlarian, sedang berusaha mengabadikan setiap moment tersebut, yang mungkin nantinya menjadi moment yang sangat special bagi sahabat media. Beragam tokoh-tokoh berderetan diatas panggung, yang menurut informasinya bahwa, event tersebut merupakan dana patungan/pat-pat gulipat/gotong royong dari 7(Tujuh) CAPRESRakyat2014, diatur dengan segala teknis tata letak meja dan kursi, juga hadir : Gus Sholahudin Wahid, Ibu Kofifah, Tokoh Profesor Surabaya, Pemerhati politik, dll, dengan membawa participant/pendukungnya masing, mendiskusikan dan memecahkan permasalah serius di Indonesia, antara lain (diatas panggung) : Rizal Ramli, Yusril Ihza Mahendra, Sofjan Saury Siregar, Israr Noor, Tony Ardie, Ricky Sutanto dan Anni Iwasaki. Salah satu kandidat yang paling menarik buat wartawan  KNM adalah sosok seorang Tokoh HM.Tony Ardie (HAMTA), tampilan yang biasa saja tiada yang mewah dan terkesan merakyat, sangat berbedah dengan para tokoh yang lain, wajah penuh pemikiran kegelisahan mengenai kemunduran bangsa ini, tapi pada saat pemaparan mengenai proyeksi maju masa depan indonesia, beliau ini sangat elegant dan stategis.

Siapa HM.TONY ARDIE (Hamta)?
Tony ardie, lahir di surabaya, 28feb1954, fisip-ui angkatan 1973(pra-yudisium), pernah menjadi asisten dosen sistem sosial Indonesia (Prof.Sarjono Yatiman, SH) dan sosiologi perkotaan (Dr.Peter Nas)1977-79. Rencana melanjutkan program master dan doctoral ke london school of economic mendapat rekomendasi dari Prof. Dr. Joewono Soedarsono (dekan fisipUI) terhalang, karena dicekal dengan alasan tidak jelas, malah kemudian lalu ditangkap. Pernah menjadi Ketum HMI, jakarta 1978-79, Ketum PB-HMI, 1979-80, 2(dua) kali dipenjara rezim order baru, antaranya : 
1)  9bulan penjara (sep83-jun’84), dengan alasan ceramah dihadapan ribuan massa, halal bihalal umat islam di mesjid agung Al-Azhar jakarta dalam nuansa perjuang menentang berbagai tindakan represif pemerintah dan pelanggaran rezim orde baru terhadap UUD45 dan Pancasila secara murni dan konsekuwen,  di dakwa dengan pasal 145KUHP (pasal yang sama untuk membungkam Ir. Soekarno tahun 1930. 
2) 9tahun masa penjara (Sep’84-Sep’93) hal memperjuangkan penegakan UUD45 dan Pancasila secara murni dan konsekuen, Bersamaan Gerakan Petisi 50(AH Nasution, Ali Sadikin, Moh. Natsir, Hoegeng, HR Dharsono, AM Fatwa, dll), merupakan sebuah koreksi total, terhadap rezim Orde baru (baca:Soeharto) yang jelas dan telah menyalah gunakan dan atau menyimpang dari UUD45 & Pancasila yang sebenarnya. Kata, Tony Ardie, ”Pemerintah Order Baru menjustifikasinya, dengan azas tunggal demi mempertahankan Status Quo mereka, bersamaan dengan terjadinya peristiwa Tanjung Priok 12Sep84, walaupun saya tidak terlibat dalam aksi priok tersebut, tetap saja saya dijebloskan kedalam penjara atas ceramah yang dituduh suversif karena ingin menggulingkan Pemerintahan, penceramah lain juga ada yang ditangkap”, kata tony ardie dikamarnya, diantaranya, ada : Mawardi Noor SH, Abdul Qadir Djaelani, termasuk AM Fatwa dari Petisi 50.Coba anda bayangkan.

Berdua berdiskusi, dari olah gerakan pemikiran masing-masing didalam Kamar Tony Ardie, wartawan KNM, bertanya, “menurut Bang Toni, Seberapa jauh keterpurukkan bangsa Indonesia, sekarang ini? Kata,Tony Ardie, sambil menghela nafas sebentar, ”Hampir semua hal terpuruk, melanda segala aspek kehidupan, merambah ipoleksosbud hankamnas. Miris jika dibahas secara detail. Yang mendesak, kata Tony Ardie adalah krisis penghayatan dan pengamalan Ideologi Negara Pancasila di kalangan masyarakat banyak dan apalagi di kalangan Elite Politik yang lebih menganut azas penghalalan/halalkan segala cara yang transaksional segala ketimbang nilai-nilai Pancasila sejati, Karena Transaksional biasanya tak menghasilkan lain kecuali persengkokolan jahat untuk sama-sama merampok negri ini demi kelompoknya sendiri”, katanya, sambil menyeduh tea ditangan, sambil melanjutkan,” Disamping itu tentunya keterpurukan atau krisis Leadership dari pusat sampai daerah yang menyebabkan Negara ini tidak tertangani dengan baik, sehingga tentu saja berdampak pada krisis ekonomi, krisis sosial budaya dan krisis hankamnas dalam arti seluas-luasnya. Tapi disamping keterpurukan-keterpurukan tersebut, saya juga melihat adanya secercah munculnya cahaya pada setiap individu khususnya kalangan muda pada era sekarang ini, katanya. Dimana terdapat kebebasan bicara dan kemudahan mendapatkan informasi yang se-sembunyi apapun, dimanapun dan kapanpun. Juga mulai munculnya berbagai transparansi di segenap lini kehidupan dikalangan muda, yang (runyamnya) tidak terjadi dikalangan elite politik, ditambah lagi tumbuhnya kepribadian-kepribadian sportif yang pada gilirannya akan menyumbangkan kepada pembangunan Karakter Bangsa. Dengan demikian ada Optimisme bahawa keterpurukan-keterpurukan tadi akan menjadi sementara disifatnya, dikarenakan kalangan muda tersebut bisa menjadi agen-agen perubahan bersama seluruh rakyat melangkah kedepan kearah pemulihan dan kebangkitan dari keterpurukan menjadi bangsa maju yang memiliki kebanggan karena telah berhasil menjadi pemilik (owner) terhadap dirinya sendiri dan tegak kepalanya di kehidupan bangsa-bangsa lain.

Kata wartawan KNM, “Lalu, (sambil bakar tembakau di bibir), Apakah Kita (Bangsa Indonesia) ini, sedang mengalami krisis management”. Jawab Tony Ardie, kepada wartawan, dengan serius sedikit santai, ”Ya, tentu saja. Bahkan bukan krisis mental dan moral biasa. Tapi kita lihat bangsa ini benar-benar sudah “sakit”. Dan khususnya ditingkat piramida atas sakit tersebut betul-betul sudah kronis dan nyaris tak tersembuhkan. Kalau sakit dipiramida menengah kebawah biasanya berkutat dan berkonteks kepada masalah ekonomi dan masih bisa dicarikan resep ampuh untuk kesembuhannya. Bangun ekonomi dan sempurnakan kesejahteraan, maka selesai persoalan. Tapi sakit dikalangan elite ekonomi dan politik? Wah, ngeri. Hampir-hampir menjadi kanibal yang saling sikat, saling jegal dan saling makan. Dimana korbanya adalah tentu juga masyarakat bawah”, tandasnya. Yakni munculnya tirani-tirani kecil maupun besar yang telah memanipulasi dan merampas materi rakyat dan melakukan ketidak adilan pembagian baik, melalui jalur fungsional maupun jalur struktural. Kita tentu masih ingat istilah kemiskinan strultural bukan? Dimana masyarakat ini menjadi miskin atau dimiskinkan oleh keponggahan struktural. Karena sesungguhnya materi dibangsa ini cukup bahkan sangat berkelimpahan. Tapi ya itulah, karena adanya krisis kepemimpinan, maksudnya ketiadaan/kekosongan keteladanan pada Leadership Around the Top Level (tokoh pimpinan) maka masyarakat bawah menjadi semakin terzalimi dan terampas hak-hak materinya.

“Bung toni, lalu apa rincian masalah dan solusi & doa bapak untuk bangsa indonesia maju sebagai capres 2014”, Kata wartawan KNM kepada Tony.  Jawab, Tony ardie, ”Bidang POLHUKAM, PANCASILA sebagai ideologi Negara adalah FINAL. Pancasila adalah pemersatu bangsa, sebagaimana bumbu kacang yang mempersatukan sayur-mayur dalam sepiring gado-gado yang lezat. Pancasila tak perlu dibanding-bandingkan dengan Agama. Sebab agama rumusan Tuhan dan Pancasila rumusan manusia yang digali dari akar budaya bangsa dan agama. Ibarat listrik yang perlu Adaptor untuk masuk dalam peralatan elektronik, maka Pancasila adalah adaptor untuk hidup nyaman di Indonesia. Suku bangsa dan agama apapun yang masuk Indonesia harus pakai adaptor yang sama yakni Pancasila itu. Kalau tidak, elektronik kita bisa korslet atau meletus. Hidup bersama di Indonesia tanpa Pancasila bakal Korslet bahkan rusuh. Hingga Perlu di galakannya kembali, didikan sejak dini disekolah-sekolah, ditawarkan secara resmi dan diteladankan Sehingga hanya orang-orang jujur, amanah dan berjiwa Pancasilais sejati yang boleh atau bisa naik keatas menjadi pemimpin sesuai dengan jenjangnya. Sebab sejatinya orang yang jujur dan amanah berarti Pancasilais, sebaliknya seorang yang Pancasilais tak mungkin culas dan khianat”, kata tony Ardie, sambil berdiam sebentar.

Seberapa OPTIMISKAH BangTony Ardie, terhadap ke-MAKMURAN bangsa Indonesia, mendatang? Kata Tony Ardie, ”Sudah tiba saatnya, mari bersama-sama kita balikan 180derajat potret bangsa ini. Yakni rakyat kecil hidup makmur sejahtera bak kehidupan para majikan dan para owner, sementara para pemimpin (yang tak lebih hanyalah pelayan) hidup sederhana dan tidak berlebihan/melebihi, kemewahan rakyat. Atau…. JANGAN jadi pemimpin kalau tak mau melayani dan hidup sederhana seperti rakyat. JANGAN jadi pemimpin kalau niatnya hanya ingin mengelabui, mencuri, merampok, mengeksploitasi dan menzalimi amanat pernderitaan rakyat. Kita harus tegas mengatakan, THAT’S ENOUGH (Sudah Cukup), mari kita kembalikan hak-hak kepada rakyat. Biarkan hari-hari mereka dihiasi senyum gembira, karena menikmati hidup yang berkecukupan, hidup yang terjamin, sejahtera, bahagia lahir dan batin. Apakah semua itu bisa? BISA, KALAU KITA MAU!!! Apakah semua itu mungkin? Sangat mungkin, dan pasti bisa, jika rakyat betul-betul menghendaki dan ingin merubah nasibnya, BERSAMA-SAMA, KITA PASTI BISA!! Apa syaratnya? Syaratnya pertama dan utama: KEMBALI KEPADA UUD45 dan PANCASILA. (JOE)

0 komentar:

Posting Komentar