Jumat, 20 September 2013

“Insiden Bendera 19 September 1945, Kejahatan Perang Eks Sekutu Yang Terlupakan”.


Merdeka....
Soudara-saudara, rakyat jelata, diseluruh indonesia, terutama, saudara-saudara penduduk kota surabaya, kita semuanya telah mengetahui, bahwa hari ini tentara inggris, telah menyebarkan panflet-panflet, yang memberikan suatu ancaman kepada kita semua, kita diwajibakan, untuk dalam waktu yang mereka tentuken, menyerahkan senjata-senjata yang telah kita rebut dari tangannya tentara jepang, mereka telah minta, supaya kita dateng pada mereka itu, dengan mengangkat tangan, mereka telah minta, supaya kita semua dateng kepada mereka itu, dengan membawa bendera putih, tanda bahwa kita menyerah kepada mereka.

Saudara-saurdara, didalam pertempuran-pertempuran yang lampau, kita sekalaian telah menunjukan, bahwa rakyat Indonesia disurabaya, pemuda-pemuda yang berasal dari maluku, pemuda-pemuda yang berasal dari sulawesi, pemuda-pemuda yang berasal dari pulau bali, pemuda-pemuda yang berasal kalimantan, pemuda-pemuda yang berasal seluruh sumatra, pemuda aceh, pemuda tapanuli dan seluruh pemuda-pemuda seluruh indonesia yang ada di surabaya ini, dengan pasukan masing-masing, pasukan rakyat yang dibentuk dikampung-kampung, telah menunjukan satu pertahanan yang tidak bisa dijebol, telah menunjukan satu kekuatan sehingga mereka terjepit dimana-mana, hanya karena taktik-taktik yang licik daripada mereka itu, hanya dengan mendatangkan presiden dan pemimpin-pemimpin lainnya kesurabaya ini, maka kita tunduk untuk memberhentikan pertemuran, tetapi pada masa itu mereka telah memperkuat diri, dan setelah kuat dan sekarang inilah keadaanya.

Saudara-saudara kita semuanya, kita bangsa indoensia yang ada di surabaya ini, akan menerima tantangan tentara inggris itu, dan kalau pimpinan tentara inggris yang ada di surabaya, ingin mendengarkan jawaban rakyat indonesia, ingin mendengarkan jawaban selurh pemuda di indonesia yang ada disurabaya ini,  dengarkan lah ini tentara inggris ini jawaban kita, ini jawaban rakyat indonesia, ini jawaban pemuda indonesia, kepada kau sekalian

Hai tentara inggris, kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih untuk takluk kepadamu, kau menyuruh kita mengangkat tangan datang kepadamu, kau menyuruh kita membawa senjata-senjata yang telah kita rampas dari tentara jepang untuk diserah kan kepadamu, tuntutan itu walaupuan kita tahu, bahwa kau sekali lagi mengancam kita untuk mengempur kita dengan seluruh kekatan yang ada, tetapi inilah jawaban kita selama banteng-banteng indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat memiliki secarik kain putih, merah dan putih, maka selama itu tidak akan mau menyerah kepada siapapun juga, saudara-saurada rakyat surabaya siaplah kedaaan genting, tetapi saya peringatkan sekalai-lagi, jangan mulai menembak-baru kalau kita ditembak, maka kita ganti menyerang mereka itu, kita tunjukan bahwa kita benar-benar orang yang ingin merdeka,tapi untuk kita saudara-saudara lebih baik kita hancur lebur dari pada tidak merdeka, sebelum kita tetap, merdeka atau mati, dan kita yakin saudara-saudara pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ketangan kita, sebab Allah selalu berada dipihak yang benar, percayalah saudara-saudara Tuhan selalu melindungi kita sekalian. Allah Akbar...Allah Akbar . . .Allah Akbar . . . MERDEKA. (Pidato Bung Tomo)
Pemuda-Pemudi Arek-Arek Suroboyo di Depan Hotel Majapahit
SIMATA NKRI bersama dengan Pemuda-pemudi Surabaya, kamis,19/9/13 di depan hotel mojopahit (yang dulu hotel orange/yamato) di Jalan Tunjungan 65 melakukan gerak theater mengenang Insiden “Insiden Bendera 19 September 1945, Penyobekan bendera Belanda, berwarna biru menjadi bendera sang saka merah putih”. Dan dikenang dengan Perjuangan arek-arek Soeroboyo.
*JR


Hari ini tepat 68 tahun silam, di sini terjadi peristiwa yang menjadi awal gerakan sporadis Arek-arek Suroboyo menantang dan melawan keinginan kolonial untuk kembali menancapkan kukunya menjajah bumi pertiwi, Indonesia.
Itulah gerakan heroik yang sulit dilupakan Arek Suroboyo. Sebab sejak hari itu, Surabaya terus bergolak. Kemudian berkobar dan mengakibatkan terjadinya puncak peristiwa yang terjadi pada 10 November 1945. Tanggal yang menjadi tonggak sejarah, sehingga Kota Surabaya memperoleh predikat “Kota Pahlawan”.
Betapa tidak, kejadian di tanggal 19 September 1945 yang dikenal dengan “insiden bendera” itu, merupakan pemicu semangat juang Arek Suroboyo. Peristiwa perobekan warna biru pada bendera Belanda tiga warna “merah-putih-biru” di atas gedung hotel Yamato menjadi peristiwa yang mengguncang dunia.
Peristiwa di Hotel Yamato (nama di zaman Jepang yang semula zaman Belanda bernama hotel Orange, kini bernama Hotel Majapahit) di Jalan Tunjungan 65 Surabaya itu, benar-benar memperkokoh persatuan pemuda pergerakan di Surabaya.

Dengan semangat tinggi arek suroboyo dengan senjata seadanya melawan pemenang Perang dunia ke II. Sebuah peristiwa yang begitu menyayat hati, betapa tidak. Hampir separuh warga kota hilang atau meninggal, celakanya peristiwa tersebut tidak pernah diketahui siapa yang bertanggung jawab?

Dan peristiwa tersebut menjadi cikal bakal kejahatan perang lainnya seperti gerbong maut yang menewaskan ribuan orang, kejahatan rawagede dan kejahatan westerling.  Dua peristiwa terakhir sudah ada permintaan dubes belanda kepada korban rawa gede yang masih hidupm dan kekejaman westerling di sulawesi, beruapa santunan. Yang sekali lagi menempatkan kita sebagai pihak terjajah.

Kini 68 tahun setelah peristiwa itu banyak hal yang terlupakan dari peristiwa itu baik kejadiannya  maupun spiritnya. Bila dulu simbolisasi penjajah dengan bendera Merah-Putih-Biru, dengan merobek Birunya Merah-Putih Jadinya, sekarang simbolisasi penjajah beragam bentuknya mulai dari yang kecil sampai ke besar, mulai yang mudah sampai yang njlimet, dan lainnya.mulai dari bayi sampai mati, semua masih berurusan dengan penjajah.
Untuk itu perlu sebuah persatuan dan spirit baru bagi kita semua untuk menghadapi penjajahan dalam bentuk dan wujudnya yang baru.   Oleh karena itu kami Aliansi Masyarakat Cinta NKRI( SIMATA NKRI) dalam memperingati insiden bendera menyerukan : 

1. Tolak dan lawan segala bentuk penjajahan.
2. Jadikan pembantaian warga surabaya tahun 1945 sebagai kejahatan perang dan bawa eks negara sekutu  ke Mahkhamah Internasional.
3. Kenang Insiden 19 september 1045 sebagai hari Bendera.
4. Menyerukan kepada seluruh rakyat surabaya agar bersama-sama  meminta pemkot surabaya mengajukan kepada negara Wiwiek hidayat DKK sebagai pahlawan.

Sekian terima kasih
Salam SIMATA, NKRI HARGA MATI.


0 komentar:

Posting Komentar